Mengapa kita perlu Reuni (1)

9 Mar

Ketika ide reuni ini digulirkan, yang dimulai dari SMS-an beberapa kawan, kemudian diikuti dengan pertemuan 1-2 orang teman di berbagai tempat yang dilanjutkan dengan mengajak teman lainnya untuk mengadakan reuni kecil seperti di Jakarta, Surabaya dan juga Tulungagung. Setelah itu diteruskan dengan tukar menukar PIN BB yang dikembangkan dengan pembuatan groups di BBM (Blackberry Messengger), dan ditindaklanjuti dengan pembentukan groups di Facebook. Nampaknya Reuni Dua Dasa Warsa Alumni;91 SMUN 1 Tulungagung ini sudah menjadi harga mati. Kehadiran blog inipun juga sebagai mata-rantai dari wacana tersebut dan kini kami akan membahas serial tulisan tentang reuni.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia didapatkan penjelasan sebagai berikut : re·u·ni /réuni/ n pertemuan kembali (bekas teman sekolah, kawan seperjuangan, dsb) setelah berpisah cukup lama. Dari arti tersebut, titik  tekannya  adalah kepada pertemuan kembali setelah berpisah. Kendatipun demikian, pengertian ini tidak bisa dimaknai sebagaimana dengan perceraian suami istri,  yang kemudian pada suatu waktu bertemu kembali. Jika kondisinya seperti itu, maka tidak bisa disebut dengan reuni, melainkan rujuk. Meskipun sama-sama bertemu kembali setelah sekian lama berpisah, akan tetapi beda reuni dengan rujuk adalah : kalu rujuk harus ada vonis pengadilan di pengadilan agama, sedangkan reuni bisa dilakukan dimana saja (just kidding).

Nampaknya kosa kata reuni yang ada di KBBI ini di adopsi dari kosa kata Bahasa Inggris, yaitu reunion. Dalam Concise Oxford Dictionary, makna dari reunion adalah sebagai berikut : reunion/riːˈjuːniən/ (n)noun  (1) the process or an instance of reuniting, (2) a social gathering attended by members of a group of people who have not seen each other for some time. Dari pengertian reuni menurut KBBI dan dari COD, terdapat kesamaan. Yaitu bertemunya kembali sebuah kelompok yang telah lama berpisah. Pertanyaan selanjutnya adalah, untuk apa sih diadakan reuni, sebegitu pentingkah reuni itu?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tidak perlu mencari referensi kemana-mana. Cukuplah kita menengok ke belakang, dan melihat dengan jernih tentang kondisi “kita” yang hampir 20 (dua puluh) tahun lulus dari sebuah institusi yang bernama SMUN 1 Tulungagung (yang karena peraturan daerah yang konyol itu, berubah namanya  menjadi SMUN 1 Kedungwaru). Tempat dimana mulai tumbuh pergumulan intelektual kita. Ruang dimana terjadi masa transisi dari remaja, memasuki masa awal-awal menuju dewasa. Sebuah rentang waktu, selama 3 (tiga) tahun, sebuah masa yang tidak bisa dibilang pendek, kita telah menjalin kebersamaan, meski mungkin kita tidak kenal satu dengan lainnya ketika itu. Satu episode kehidupan yang dibumbuhi dengan kenakalan dan kegenitan kita untuk melakukan perlawanan terhadap hal-hal yang kita anggap mapan, hanya sekedar untuk menunjukkan identitas kita ketika itu, biar kita dianggap sudah dewasa, bukan anak kecil lagi.  Meski ada juga di antara kita menjadi anak Masjid yang ‘alim, bahkan ada yang memang sudah dewasa (tepatnya dewasa sebelum waktunya), sehingga menjalani kehidupan selama di SMA dengan datar-datar saja.

Tetapi apapun yang pernah kita lakukan selama SMA, tentu saja meninggalkan torehan tinta (emas?) dalam catatan sejarah hidup kita, yang tentu saja menyimpan sejuta makna. Dan baru kemudian kita tersenyum sendiri, ketika tahun telah berbilang, tatkala kita mulai membuka lembaran sejarah hidup kita, membuka diary atau album yang sudah mulai usang,  menemukan adanya fragmentasi kehidupan yang pernah kita lakoni. Dan itupun seringkali di picu ketika diantara kita, sengaja atau tidak sengaja ketemu dan saling bertegur sapa dan berbagi cerita,  setelah sekian lama tak bersua, hal-hal yang dulu kita anggap biasa, ternyata menjadi luar biasa. Hal-hal yang dulu di anggap hebat, ternyata, kini kita mentertawakannya sebagai sebuah kekonyolan, dan lain sebagainya. Ada di antara kita yang mungkin bangga karenanya, tetapi tidak sedikit sesungguhnya kita malu atas perbuatan kita itu. Belum lagi jika dikaitkan dengan hubungan antar teman sekelas, teman lain kelas, teman laing angkatan, hubungan dengan guru, dengan BP, dengan pak Bon, Cak Supar, penjaga sekolah dll. Tentu akan menambah deretan panjang cerita itu. (bersambung)

.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: